WARGA TUA, WARGA NILAM NEGARA

Tua mu tunas negara maju,
Kehidupan bertunjang pengorbanan warga silam
Datuk, nenek dan moyang
Mewarnai kegemilangan memori nilam
Warga berbudi, warga ku ini.

Warga ini,
Jasa dan penat lelahmu tidak disiakan
Dari dirimu lahir pemimpin yang unggul
Dari nasihatmu jiwa muda dilentur wibawa langkahnya
Dari suaramu negaraku menjemput suria mentari
‘Merdeka!’
Dari idemu anak bangsa mengecapi gemilang duniawi.

Warga tua bangsa ini,
Tuturkata klasik bukan mencerca tapi penuh makna coretan berita,
Ya! Berita tatkala diri muda ini lupa asal usulnya.
Ya! Berita buat panduan si remaja ini menempuh onak yang fana
Ya! Berita ceritera silam memulakan perjalanan yang tidak kesudahannya.

Warga lama, sesegar murni teguh harapan,
Kerna, warga ini walau tua pada usianya, namun semangat belum luntur dimamahnya.
Kerna, warga ini walau giginya tinggal dua, namun masih utuh mengunyah gula-gula manis kehidupan.
Kerna, warga ini walau rabun matanya, namun pandangan masih jauh menyelusuri sungai hidup.
Kerna, warga ini walau bertongkat tiga, namun masih gagah memegang panji-panji maruah negara.

Dirimu warga nilamku,
Pernah sebaris saf tinta
Mengukir corak dan megembur tanah pusaka
Buat pengganti pewaris negara,
Agar generasi datang menikmati juadah
Dan berkat usaha yang dihidangkan olehmu,
Sepanjang usia tanpa rasa jemu dan kecewa.

Wahai warga muda,
Mereka warga kita
Sayangi mereka, sayangi negara
Negara kita bermula dengan limpah peluh dan keringat mereka.


Wahai anak remaja,
Warga ini warga nilam kita
Bongkarlah pesaka pengetahuan mereka
Buat peringatan diri menempuh
Jalan berliku cabaran dunia.
Kutiplah hikmat-hikmat kata mereka
Buat benteng gangguan keparat si derhaka
Pacaklah paksi hidup bersama tunjang keyakinan
Yang dibajai titis darahnya
Taburlah rampai wangi, buat tanda syukur mulia mereka.

Duhai warga pewaris bangsa,
Jangan dinilai suatu budi dengan duitan yang porak peranda
Pengorbanan si tua ini bukan meginginkan pangkat
Ringgit Malaysia semata
Sekadar mengharapkan gunung keharmonian keamanan
Wawasan dikabulkan.

Jangan ditanya apa sumbangan mereka
Pada diri kita,
Dihitung tidak terkira
Dibalas tidak terdaya
Dibiar dimurkai kita

Sebab mereka adanya diri kita
Sebab mereka adanya bangsa
Sebab mereka menjadi musababnya……

Warga lama, tua dan nilam,
Warga berjasa, kenangan mekar
Wangi dalam jiwa dan raga.


Budi Permai 03’
27/8/2003 (12.33 PM)
SMKB

____________________________________________________________________
JASA MU DIKENANG
(Buat Puan Hajah Robiah binti Hassan)

Ustazah,
Kenangan ini pasti tugu ingatan
Abadi bersama kami corakkan
Pahat di hati agar hilang rinduya
nanti.
Namun jauh di mata di hati
pasti………….

Kata Sang Pujangga,

Kalau ada jarum yang patah
Jangan disimpan di dalam peti
Kalau ada silap dan salah
Jangan disimpan di dalam hati


Puan Hajah, Ustazah yang dihormati,
Keluarga mu keluarga kami
Kasih sayang mu kami semi
Bakti budi mu kami ingati
Bimbing nasihat mu kami turuti.

2004 tahun keramat memori pergi
Saat dan ketika ini
Sedih pasti jadi tatapi
Pilu bukan kami tangisi
Tapi hilang mutiara di sisi
Belum tahu macam mana yang diganti.
Harapannya sama walau tidak serupa.

Izinkan sata tutup puisi ini dengan catatan memoir buat kenangan abadi;

Hari Jumaat 26hb yang indah ini
Waktu petang yang indah berseri
Puan Hajah Ustazah pergi ke sana nanti
Jangan lupa warga SMKB di dalam hati.

Senyum ceria coretan budi
Puisi indah jadi kenangan
Ukiran tidak dapat diperi lagi
Hanya Jasa di kenang tanda ingatan.

Kata sang Puisi,

Kalau ada sumur di ladang
Boleh kita menumpang mandi
Kalau umur yang panjang
Boleh lah kita berjumpa lagi

Di gamit kenangan tahun 2001
Puan Hajah melangkakh kaki mengukir
kronologi catatan di SMKB

Puan Hajah,
Membawa dasr pimpinan bagai
Si ibu dengan anak-anak yang
dikasihi.
Amanat dan nasihat
tidak pernah kering diungkapi
demi kesejahteraan dan kecemerlangan
SMKB di rantau sini.

Hasrat di hati,
Ingin bersama Puan Hajah kekal
lama di sini,
kerna dirinya Sang ketua yang
tidak lekang tabur bakti
dan curahan budi.

Kata Puitis lingkaran madah,

Jadilah rasmi padi
Semakin berisi semakin rebah
Jangan jadi rasmi lalang
Dipukul angin kesitu kesini.

Diri mu bernama Ustazah,
Harapan murni sikap dan akhlak
Tegal disiplin anak didik
Generasi muka kan mulia
dan gemilang.

Ustazah,
Biar sepi kau serikan
Biar bingar kau rendahkan
Biar lemah kau gagahkan
Biar penat kau teruskan
Ustazah,
Kenangan ini pasti tugu ingatan
Abadi bersama kami corakkan
Pahat di hati agar hilang rinduya
nanti.
Namun jauh di mata di hati
pasti………….

Kata Sang Pujangga,

Kalau ada jarum yang patah
Jangan disimpan di dalam peti
Kalau ada silap dan salah
Jangan disimpan di dalam hati


Puan Hajah, Ustazah yang dihormati,
Keluarga mu keluarga kami
Kasih sayang mu kami semi
Bakti budi mu kami ingati
Bimbing nasihat mu kami turuti.

2004 tahun keramat memori pergi
Saat dan ketika ini
Sedih pasti jadi tatapi
Pilu bukan kami tangisi
Tapi hilang mutiara di sisi
Belum tahu macam mana yang diganti.
Harapannya sama walau tidak serupa.

Izinkan sata tutup puisi ini dengan catatan memoir buat kenangan abadi;

Hari Jumaat 26hb yang indah ini
Waktu petang yang indah berseri
Puan Hajah Ustazah pergi ke sana nanti
Jangan lupa warga SMKB di dalam hati.

Senyum ceria coretan budi
Puisi indah jadi kenangan
Ukiran tidak dapat diperi lagi
Hanya Jasa di kenang tanda ingatan.

Sekian.

Budi Permai
26/3/04 (3.25 petang)
_______________________________________________________
BANGKAI BERNYAWA

Hidup tidak berguna !!!
Kenalkah mu kepada si Polan?
Bukan sesiapa tiada kaitan
Hidup atau mati insan semua.

Polan nama besar, megah, hebat
Dan berjaya asalnya.
Mulanya sekadar mencuba rasa
Dadah menyelit dalam memorinya.

Hidup tidak berguna !!!
Polan sudah pandai menipu Ibu dan Bapa
Sudah pandai ponteng kelas,
Sekolah lama tidak dijenguknya.
Sudah pandai berkawan dengan kutu rayau
Penuh kesan suntikan jarum pada diri mereka
Sudah pandai mencuri, merompak
Tiada rasa belas kemanusiaan
Asal dapat najis dadah yang perlu dibelanja.

Hidup tidak berguna !!!
Badan si Polan kusut, susut dan kering tinggal tulang
“Bangkai Bernyawa”lah adanya.

Hidup tidak berguna !!!
Tempat tidurnya longkang kotor
Bertemankan sang tikus, lipas dan kala jengking.
Serta rakan seperjuangannya.
Pakaian koyak rabak, berkaki ayam pula
Dirinya lagi tidak berguna menjadi
Sampah masyarakat dan negara.

Hidup tidak berguna !!!
Kesan luka suntikan heroin
Memenuhi badan dan lengannya.
Longlai dan lemah tidak bermaya
Bagai sehelai bulu kering bisa ditiup angin
Terbang ke mana saja tujunya.
Begitulah “Bangkai Bernyawa” akhirnya
Menjadi mayat kaku
tidak berdengup jantungnya.
Terbaring di tepi longkang busuk tidak terkira
Sedih tiada guna kerna itu jalan pilihannya.

Wahai insan insani,
Sedarlah, insaflah
Sebelum terlambat
Sebelum tergelincir
Sebelum terhumban
Sebelum kita menjadi si Polan tidak bernyawa.

Kembali kita kepada sejahtera
Kembali kita kepada bahagia
Kembali kita kepada agama

Catatan :
Maksud “Bangkai Bernyawa”;
Orang yang hidup tidak berguna
Sekian.
Budi Permai
03052007 (8.35am)